Pulmonary Embolism: Penyakit Serius yang Perlu Waspadai
Surabaya, 10 Februari 2026 – Pulmonary embolism (PE) atau penyumbatan arteri paru-paru adalah kondisi medis darurat yang dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan cepat. Penyakit ini terjadi ketika bekuan darah dari pembuluh vena dalam tubuh, biasanya kaki, berpindah ke paru-paru dan menghambat aliran darah.
Menurut data medis, PE sering dimulai dari deep vein thrombosis (DVT) dan memiliki risiko tinggi pada pasien yang memiliki faktor genetik, imobilisasi lama, obesitas, kehamilan, atau riwayat penyakit jantung dan paru-paru.
Gejala Pulmonary Embolism yang Harus Diwaspadai
Gejala PE bisa muncul mendadak dan bervariasi, antara lain:
-
Sesak napas mendadak
-
Nyeri dada tajam yang memburuk saat bernapas
-
Batuk berdarah (hemoptisis)
-
Pusing atau pingsan pada kasus berat
Tanda fisik lainnya termasuk detak jantung cepat, tekanan darah rendah, dan pembengkakan kaki jika disebabkan oleh DVT.
Diagnosis dan Pemeriksaan
Dokter biasanya melakukan kombinasi pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, seperti:
-
CT Pulmonary Angiography (CTPA) sebagai standar emas diagnosis PE
-
Ventilation-perfusion (V/Q) scan untuk alternatif jika CTPA tidak memungkinkan
-
D-dimer untuk menyingkirkan kemungkinan PE
-
USG Doppler untuk mendeteksi DVT di kaki
Skoring klinis seperti Wells score atau Geneva score juga digunakan untuk menilai probabilitas PE.
Pengobatan Pulmonary Embolism
Penanganan PE tergantung tingkat keparahannya:
-
Antikoagulan: Heparin, warfarin, atau DOAC (apixaban, rivaroxaban) untuk mencegah pembekuan lebih lanjut
-
Trombolitik: Untuk kasus PE berat dengan syok
-
Intervensi bedah: Embolectomy atau kateterisasi jika terapi medis gagal
Pencegahan PE dapat dilakukan dengan mobilisasi dini pasca operasi, penggunaan stocking elastik, dan pemberian profilaksis antikoagulan bagi pasien berisiko tinggi.
Kesimpulan
Pulmonary embolism adalah kondisi serius yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Masyarakat disarankan untuk mengenali gejala PE, terutama pada orang dengan faktor risiko tinggi, agar komplikasi seperti gagal jantung kanan, infark paru, hingga kematian mendadak dapat dihindari.