Mengapa Surabaya Terasa Panas Sejak Pagi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Surabaya, 16 Oktober 2025 – Cuaca panas belakangan ini menjadi topik hangat di Surabaya. Banyak warga mengeluh karena udara terasa menyengat bahkan sejak pukul 7 pagi, waktu yang biasanya masih cukup sejuk.
Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan kota ini begitu panas sejak pagi? Apakah ini pertanda perubahan iklim? Atau sekadar musim kemarau biasa?
Menurut BMKG dan sejumlah pakar cuaca, fenomena ini bukan sekadar "cuaca buruk". Ada penjelasan ilmiah di baliknya — dan menariknya, semua ini berkaitan erat dengan apa yang dipelajari siswa di sekolah, terutama dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Geografi.
Matahari Lebih Terik Karena Posisi di Langit Lebih Tinggi
Salah satu penyebab utama cuaca panas sejak pagi adalah posisi matahari yang saat ini berada hampir tegak lurus di atas wilayah Jawa Timur. Fenomena ini dikenal sebagai kulminasi utama.
Ketika matahari berada di posisi ini, radiasi sinar matahari diterima secara maksimal oleh permukaan bumi, termasuk sejak pagi hari. Artinya, panas yang biasanya terasa menjelang siang kini sudah mulai terasa hanya beberapa menit setelah matahari terbit.
Langit Cerah, Sedikit Awan, Panas Tak Terhalangi
Kondisi langit Surabaya yang nyaris tanpa awan di pagi hari memperparah situasi. Pada musim kemarau seperti sekarang, tutupan awan memang sangat minim.
Akibatnya, tidak ada lapisan yang menghalangi radiasi matahari, membuat panas langsung menyentuh permukaan tanah dan bangunan. Inilah sebabnya suhu terasa cepat naik, meski waktu masih pagi.
Kota yang Padat Memperkuat Efek Panas
Surabaya sebagai kota besar juga mengalami apa yang disebut sebagai Urban Heat Island — sebuah fenomena ketika suhu di wilayah perkotaan terasa lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.
Bangunan, jalan beraspal, dan minimnya ruang hijau membuat panas matahari lebih mudah terserap dan dipantulkan kembali ke atmosfer, sehingga udara sekitar terasa lebih panas dan gerah, termasuk di pagi hari.
Kelembapan Udara: Musuh Diam-Diam di Pagi Hari
Tak hanya suhu, kelembapan udara juga berperan besar. Di pagi hari, kelembapan relatif biasanya tinggi. Hal ini membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri lewat penguapan keringat.
Akibatnya, meskipun suhu udara belum mencapai puncaknya, tubuh kita sudah merasa gerah dan tidak nyaman, karena panas ‘terperangkap’ di permukaan kulit.
Apa Hubungannya dengan Pelajaran Sains di Sekolah?
Fenomena cuaca panas ini bukan hanya topik perbincangan sehari-hari, tetapi juga bisa dijadikan bahan ajar kontekstual di sekolah.
Beberapa konsep yang bisa dipelajari dari kondisi ini:
-
Gerak semu matahari dan kulminasi (Astronomi)
-
Radiasi panas dan transfer energi (Fisika)
-
Peran awan dan atmosfer dalam mengatur suhu bumi (Meteorologi)
-
Pengaruh permukaan bumi terhadap suhu lokal (Geografi)
-
Dampak aktivitas manusia terhadap iklim mikro (Ekologi)
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya mempelajari teori dari buku, tapi juga bisa mengaitkannya langsung dengan pengalaman sehari-hari, meningkatkan minat dan pemahaman mereka terhadap sains.
BMKG dan Media Menjelaskan
Beberapa media seperti Kompas, Suara Surabaya, dan Kabar Surabaya telah mengutip pernyataan BMKG bahwa kondisi panas ekstrem ini disebabkan oleh:
-
Posisi matahari yang tinggi (kulminasi)
-
Minimnya tutupan awan
-
Musim kemarau
-
Perubahan penggunaan lahan di kota besar
Faktor-faktor ini berinteraksi dan memperkuat efek panas, terutama di kota besar seperti Surabaya.
Kesimpulan
Panasnya Surabaya sejak pagi bukanlah hal kebetulan. Fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah melalui kombinasi antara kondisi astronomis, atmosfer, dan lingkungan urban.
Lebih dari sekadar cuaca ekstrem, ini adalah kesempatan emas bagi dunia pendidikan untuk menghadirkan pembelajaran sains yang relevan, nyata, dan kontekstual. Dengan begitu, siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga memahami dampaknya secara langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.