Ujian Terbuka Disertasi Syamsudin dan Martini: Riset Doktor UNESA Perkuat Berpikir Kritis dan Kemandirian Belajar untuk Pendidikan Berkualitas
SURABAYA – Program Studi S3 Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah melaksanakan Ujian Terbuka Disertasi Syamsudin dan Martini pada Senin, 27 Juli 2026. Dua penelitian doktoral tersebut mengangkat inovasi pembelajaran yang berorientasi pada penguatan keterampilan berpikir kritis, kemandirian belajar, dan pembelajaran IPA yang bermakna, kompetensi yang semakin penting dalam mendukung pendidikan berkualitas dan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Ujian Terbuka Disertasi berlangsung di Auditorium Slamet Dajono lantai 3 FMIPA UNESA. Syamsudin melaksanakan ujian pada sesi pertama pukul 08.00–10.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan Ujian Terbuka Disertasi Martini pada pukul 10.00–12.00 WIB.
Meskipun dilaksanakan pada konteks pendidikan yang berbeda, kedua penelitian berangkat dari tantangan yang sama dalam pendidikan kontemporer, yaitu bagaimana pembelajaran tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk peserta didik yang berpikir kritis, mandiri dalam belajar, dan mampu merespons berbagai persoalan secara rasional.
Kompetensi tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas), yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkeadilan serta kesempatan belajar sepanjang hayat.
Syamsudin Kembangkan CRITIBL untuk Memperkuat Berpikir Kritis dan Kemandirian Belajar
Dalam Ujian Terbuka Disertasinya, Syamsudin mempresentasikan penelitian berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Critical Thinking Independence Based Learning (CRITIBL) untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Calon Guru Kelas di Pondok Pesantren.”
Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan model Critical Thinking Independence Based Learning (CRITIBL) yang diarahkan untuk memperkuat dua kompetensi utama, yaitu keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar.
Kedua kompetensi tersebut semakin penting dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak lagi cukup hanya menerima dan mengingat informasi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis bukti, mengevaluasi berbagai sudut pandang, menghasilkan pertimbangan yang rasional, serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Penelitian Syamsudin menempatkan kompetensi tersebut dalam konteks yang khas, yakni mahasiswa calon guru kelas di pondok pesantren. Konteks ini memberikan dimensi penting dalam pengembangan model karena pendidikan calon guru memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas pembelajaran di masa depan.
Penguatan keterampilan berpikir kritis pada calon guru berpotensi memberikan dampak yang lebih luas. Calon guru yang terbiasa menganalisis, mengevaluasi, mempertanyakan informasi, dan melakukan refleksi diharapkan memiliki kesiapan lebih baik dalam menciptakan pengalaman belajar yang juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didiknya.
Kemandirian belajar juga tidak kalah penting. Seorang calon guru perlu mampu mengenali kebutuhan belajarnya, mencari sumber informasi yang relevan, mengevaluasi perkembangan dirinya, serta terus meningkatkan kompetensi profesional secara berkelanjutan.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, penelitian ini memiliki keterkaitan paling kuat dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Penguatan kualitas calon guru menjadi bagian penting dalam membangun sistem pendidikan yang ditopang oleh pendidik yang kompeten, reflektif, dan memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat.
Penelitian tersebut juga memiliki irisan dengan semangat SDG 10: Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan) dalam konteks yang lebih luas, khususnya melalui pengembangan inovasi pendidikan pada lingkungan pembelajaran yang beragam, termasuk pondok pesantren.
Dengan demikian, perbedaan karakteristik institusi pendidikan tidak ditempatkan sebagai hambatan, tetapi menjadi konteks yang dapat diakomodasi dalam pengembangan inovasi pembelajaran.
Disertasi Syamsudin dibimbing oleh Prof. Dr. Wahono Widodo, M.Si. sebagai promotor dan Prof. Dr. Endang Susantini, M.Pd. sebagai kopromotor. Tim penguji melibatkan akademisi dari bidang Pendidikan Fisika, Pendidikan IPA, Pendidikan Biologi, Kimia, dan Pendidikan Kimia. Prof. Habidin, M.Si., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Malang turut menjadi penguji eksternal.
Martini Kembangkan PjBL-S untuk Meningkatkan Berpikir Kritis Siswa SMP
Pada sesi berikutnya, Martini mempresentasikan disertasi yang berfokus pada pengembangan Project-Based Learning dengan Scaffolding (PjBL-S) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP dalam pembelajaran IPA.
Disertasi tersebut berjudul “Model Project-Based Learning dengan Scaffolding (PjBL-S) untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP pada Pembelajaran IPA.”
Penelitian Martini mengangkat salah satu persoalan penting dalam pendidikan IPA, yaitu bagaimana pembelajaran dapat membantu siswa bergerak dari sekadar memahami konsep menuju kemampuan menggunakan konsep tersebut untuk menganalisis masalah, menghubungkan informasi, mengevaluasi bukti, dan menyusun kesimpulan secara logis.
Project-Based Learning (PjBL) memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran yang bermakna melalui pengerjaan proyek. Namun, aktivitas berbasis proyek juga dapat menghadirkan tantangan kognitif, terutama ketika siswa harus menyelesaikan tugas kompleks secara relatif mandiri.
Karena itu, keberadaan scaffolding menjadi komponen penting dalam model pembelajaran yang dikembangkan.
Scaffolding memberikan dukungan terstruktur selama proses pembelajaran dan dapat disesuaikan secara bertahap seiring dengan perkembangan kemampuan siswa. Ketika dipadukan dengan pembelajaran berbasis proyek, pendekatan ini dapat menciptakan pengalaman belajar yang tetap berpusat pada aktivitas siswa sekaligus memberikan bantuan yang sesuai ketika mereka menghadapi persoalan ilmiah yang kompleks.
Pendekatan tersebut sangat relevan dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis. Pembelajaran IPA tidak hanya menuntut siswa mengetahui fakta ilmiah, tetapi juga menginterpretasikan informasi, mengidentifikasi hubungan antarvariabel, mengevaluasi suatu klaim, menggunakan bukti, serta memberikan alasan terhadap kesimpulan yang dibuat.
Dengan menempatkan keterampilan berpikir kritis sebagai salah satu sasaran utama pembelajaran IPA di SMP, penelitian Martini memiliki keterkaitan yang kuat dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi proses pembelajaran.
Berpikir kritis juga merupakan kompetensi penting yang mendukung pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Berbagai tantangan kontemporer—mulai dari persoalan lingkungan, perkembangan teknologi, kesehatan masyarakat hingga pengelolaan sumber daya—membutuhkan individu yang mampu membedakan bukti yang dapat dipercaya dengan klaim yang tidak memiliki dasar kuat.
Dalam konteks tersebut, penguatan keterampilan berpikir kritis melalui pembelajaran IPA dapat membantu mempersiapkan siswa agar lebih mampu menghadapi berbagai persoalan sosial dan lingkungan secara rasional di masa mendatang.
Disertasi Martini dibimbing oleh Prof. Dr. Erman, M.Si. sebagai promotor dan Prof. Dr. I Gusti Made Sanjaya, M.Si. sebagai kopromotor. Tim penguji juga melibatkan akademisi dari bidang Pendidikan IPA, Kimia, dan Pendidikan Fisika, termasuk Prof. Dr. Sri Astutik, M.Si. dari Universitas Jember.
Berpikir Kritis sebagai Fondasi Pendidikan Berkelanjutan
Penelitian doktoral Syamsudin dan Martini memiliki satu titik temu yang sangat kuat, yaitu keterampilan berpikir kritis.
Syamsudin menempatkan berpikir kritis bersama kemandirian belajar dalam konteks pendidikan calon guru, sedangkan Martini mengembangkan pembelajaran yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP dalam pembelajaran IPA.
Kedua perspektif tersebut menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis perlu dikembangkan secara berkelanjutan pada berbagai jenjang pendidikan.
Pada tingkat pendidikan tinggi, calon guru membutuhkan keterampilan berpikir kritis agar mampu menjadi pendidik yang reflektif dan adaptif. Pada tingkat sekolah, peserta didik juga perlu memperoleh kesempatan untuk mempertanyakan informasi, menganalisis bukti, serta menghasilkan kesimpulan yang logis sejak dini.
Keberlanjutan pengembangan kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.
Keterampilan berpikir kritis semakin relevan pada era perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi. Peserta didik kini berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar dari platform digital, media sosial, kecerdasan artifisial, dan berbagai sumber lainnya.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu sejalan dengan kemampuan untuk memahami dan mengevaluasi kualitas informasi tersebut.
Karena itu, baik peserta didik maupun pendidik membutuhkan kemampuan untuk menilai kredibilitas informasi, membedakan bukti dengan opini, mengidentifikasi ketidakkonsistenan, serta membuat keputusan berdasarkan penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan berkualitas yang mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
Dari Kemandirian Calon Guru hingga Berpikir Kritis Siswa
Kedua disertasi juga menunjukkan hubungan penting antara pendidikan calon guru dan kualitas pembelajaran peserta didik.
Model CRITIBL yang dikembangkan Syamsudin menekankan pembentukan calon guru yang kritis dan mandiri dalam belajar. Sementara itu, model PjBL-S yang dikembangkan Martini memberikan perhatian pada kondisi pembelajaran yang mampu mendorong siswa SMP berpikir kritis dalam pembelajaran IPA.
Dua ranah tersebut saling berkaitan.
Kualitas pengalaman belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang bermakna. Guru yang memiliki keterampilan berpikir kritis dan kemandirian belajar yang baik akan memiliki modal yang lebih kuat untuk memilih strategi pembelajaran, menganalisis berbagai kendala belajar, serta memberikan dukungan yang sesuai kepada peserta didik.
Pada saat yang sama, pendekatan seperti PjBL-S menunjukkan bagaimana kompetensi pedagogis tersebut dapat diterjemahkan dalam praktik pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat secara aktif.
Dengan demikian, kedua penelitian doktoral tersebut merepresentasikan dua tingkatan yang berbeda namun saling melengkapi dalam pengembangan pendidikan, yaitu penguatan kompetensi calon pendidik dan penguatan kemampuan berpikir peserta didik.
Pendidikan Sains dan Kontribusinya terhadap Agenda SDGs
Ujian Terbuka Disertasi Syamsudin dan Martini turut memperlihatkan bagaimana penelitian doktoral dalam bidang Pendidikan Sains dapat memberikan kontribusi terhadap agenda pembangunan berkelanjutan.
Keterkaitan paling kuat dari kedua penelitian tersebut adalah dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, terutama melalui upaya pengembangan kompetensi penting peserta didik serta peningkatan kualitas praktik pembelajaran.
Penelitian Syamsudin juga memiliki relevansi dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dalam konteks pengembangan inovasi pembelajaran pada lingkungan pendidikan yang beragam, termasuk pondok pesantren.
Lebih jauh, kedua penelitian menempatkan sejumlah kompetensi yang dapat menjadi fondasi penting dalam pendidikan berorientasi keberlanjutan.
Berpikir kritis memungkinkan peserta didik menganalisis persoalan kompleks dan tidak menerima informasi secara mentah. Kemandirian belajar membangun kapasitas individu untuk terus mengembangkan pengetahuan sepanjang hayat. Pembelajaran berbasis proyek memberikan pengalaman dalam menghadapi persoalan yang bermakna, sementara scaffolding memastikan bahwa siswa memperoleh dukungan yang tepat ketika mengembangkan kompetensi yang lebih tinggi.
Secara bersama-sama, komponen tersebut menunjukkan orientasi pendidikan yang melampaui pencapaian akademik jangka pendek.
Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk peserta didik yang mampu memahami persoalan, mengevaluasi berbagai alternatif, mengambil keputusan berdasarkan bukti, dan terus belajar sepanjang hayat.
Melalui penelitian doktoral seperti model CRITIBL dan PjBL-S yang dipresentasikan oleh Syamsudin dan Martini, Program Studi S3 Pendidikan Sains UNESA terus memperkuat keterhubungan antara penelitian pendidikan, inovasi pembelajaran, pengembangan calon guru, dan upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas serta berkelanjutan.