Ujian Proposal Mala Mulia: Model APIIK Dorong Kompetensi Sains dan Literasi Digital Calon Guru IPA
SURABAYA – Program Studi S3 Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah melaksanakan Ujian Proposal Disertasi Mala Mulia pada Rabu, 19 Agustus 2026. Proposal penelitian tersebut menawarkan pengembangan Model Pembelajaran APIIK (Adaptif, Personal, Integratif, Kolaboratif, Kontekstual) untuk meningkatkan kompetensi sains dan literasi digital calon guru IPA.
Ujian proposal berlangsung pada pukul 10.00–11.30 WIB di Ruang Ujian Lantai 1 Gedung IDB FMIPA UNESA. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tahapan akademik mahasiswa Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA UNESA.
Dalam dokumen jadwal ujian, Mala Mulia tercatat sebagai mahasiswa dengan NIM 25030966002. Proposal disertasinya berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran APIIK (Adaptif, Personal, Integratif, Kolaboratif, Kontekstual) untuk Meningkatkan Keterampilan Kompetensi Sains dan Literasi Digital Calon Guru IPA.”
Penelitian tersebut mengangkat dua kompetensi yang semakin penting dalam pendidikan calon guru, yaitu kompetensi sains dan literasi digital. Keduanya menjadi semakin strategis ketika proses pendidikan menghadapi perkembangan teknologi, perubahan karakteristik sumber belajar, serta tuntutan agar calon pendidik mampu mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan ekosistem digital secara bertanggung jawab.
APIIK Hadirkan Lima Orientasi Pembelajaran
Model pembelajaran yang diusulkan Mala Mulia menggunakan akronim APIIK, yang terdiri atas lima karakteristik utama: Adaptif, Personal, Integratif, Kolaboratif, dan Kontekstual. Kelima unsur tersebut menjadi kerangka pengembangan model yang diarahkan untuk mendukung pembelajaran calon guru IPA.
Karakter adaptif menunjukkan orientasi pembelajaran yang memberikan perhatian terhadap perubahan dan kebutuhan dalam proses belajar. Dalam pendidikan masa kini, kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting karena peserta didik dan pendidik berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung cepat.
Aspek personal menempatkan karakteristik dan kebutuhan individu sebagai bagian yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini membuka ruang bagi pengalaman belajar yang tidak sepenuhnya seragam, tetapi mempertimbangkan bagaimana setiap mahasiswa membangun kompetensinya.
Sementara itu, karakter integratif menjadi relevan dalam pendidikan IPA karena sains pada dasarnya tidak berdiri dalam sekat-sekat pengetahuan yang terpisah. Calon guru perlu mampu menghubungkan konsep, keterampilan, teknologi, dan konteks pembelajaran dalam suatu pengalaman pendidikan yang utuh.
Aspek kolaboratif menekankan pentingnya interaksi dan kerja bersama dalam membangun pengetahuan maupun menyelesaikan persoalan. Kemampuan berkolaborasi semakin dibutuhkan dalam pembelajaran sains modern, terutama ketika persoalan yang dihadapi memerlukan pertukaran ide, pembagian peran, dan penyelesaian masalah secara bersama.
Adapun aspek kontekstual mengarahkan pembelajaran agar pengetahuan yang dipelajari memiliki keterhubungan dengan situasi nyata. Dalam pendidikan IPA, pendekatan semacam ini dapat membantu calon guru memahami bahwa konsep sains tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan teoritis, tetapi juga digunakan untuk membaca dan menjelaskan fenomena dalam kehidupan.
Memperkuat Kompetensi Sains Calon Guru IPA
Salah satu fokus utama penelitian Mala Mulia adalah peningkatan kompetensi sains calon guru IPA.
Kompetensi sains memiliki posisi penting dalam pendidikan calon guru karena pendidik tidak cukup hanya menguasai sejumlah konsep. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami fenomena secara ilmiah, menggunakan pengetahuan dalam menghadapi persoalan, serta mengembangkan proses pembelajaran yang membantu peserta didik membangun pemahaman berbasis bukti.
Calon guru IPA berada pada posisi strategis karena kompetensi yang mereka miliki nantinya akan berpengaruh terhadap kualitas pengalaman belajar siswa di sekolah.
Dengan demikian, penguatan kompetensi sains pada tahap pendidikan guru memiliki potensi dampak yang lebih luas. Kompetensi yang terbentuk pada calon pendidik dapat menjadi modal untuk menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih bermakna, relevan, dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Literasi Digital Semakin Penting bagi Calon Pendidik
Selain kompetensi sains, proposal penelitian ini memberikan perhatian khusus pada literasi digital.
Perkembangan teknologi telah mengubah cara mahasiswa memperoleh informasi, berkomunikasi, menghasilkan karya, dan mengikuti pembelajaran. Beragam sumber digital kini dapat diakses dalam waktu yang sangat singkat, termasuk melalui platform pembelajaran daring dan teknologi berbasis kecerdasan artifisial.
Namun, banyaknya informasi yang tersedia juga membawa tantangan.
Literasi digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat atau mengakses internet. Dalam konteks pendidikan, calon guru juga perlu mampu memilih sumber yang relevan, menilai kredibilitas informasi, menggunakan teknologi secara tepat, serta memahami bagaimana sumber digital dapat mendukung tujuan pembelajaran.
Bagi calon guru IPA, literasi digital juga semakin penting karena informasi ilmiah berkembang dengan cepat dan tersebar melalui beragam platform.
Pendidik masa depan perlu mampu memanfaatkan perkembangan tersebut tanpa kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi kualitas bukti dan membedakan informasi ilmiah dari klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, integrasi kompetensi sains dan literasi digital dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam mempersiapkan calon guru menghadapi ekosistem pendidikan yang semakin terdigitalisasi.
Relevan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Secara substantif, proposal disertasi Mala Mulia memiliki keterkaitan paling kuat dengan Sustainable Development Goal 4 (SDG 4): Quality Education atau Pendidikan Berkualitas.
Pengembangan model pembelajaran yang diarahkan pada peningkatan kompetensi calon guru memiliki posisi strategis dalam mendukung pendidikan berkualitas. Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum maupun ketersediaan fasilitas, tetapi juga oleh kualitas pendidik yang merancang dan melaksanakan pembelajaran.
Melalui fokus pada kompetensi sains dan literasi digital, penelitian ini berupaya menjawab kebutuhan terhadap calon pendidik yang memiliki kemampuan akademik sekaligus kesiapan menghadapi transformasi pembelajaran.
Hal tersebut sejalan dengan semangat SDG 4 dalam memperkuat kualitas pendidikan serta kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Literasi Digital dan Inovasi Pendidikan Beririsan dengan SDG 9
Selain SDG 4, orientasi literasi digital dalam penelitian tersebut juga memiliki irisan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, terutama pada aspek inovasi dan pemanfaatan perkembangan teknologi.
Transformasi digital telah menjadi bagian dari perubahan infrastruktur pendidikan. Namun, teknologi akan memiliki nilai pendidikan yang kuat apabila didukung oleh sumber daya manusia yang mampu menggunakannya secara tepat.
Dalam konteks tersebut, calon guru tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk memahami fungsi teknologi, memilih penggunaannya sesuai tujuan pembelajaran, dan mengintegrasikannya secara bertanggung jawab dalam praktik pendidikan.
Penguatan literasi digital pada calon guru dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap inovasi tanpa menjadikan teknologi sebagai tujuan akhir pembelajaran.
Dukungan Tim Promotor dan Penguji Multidisiplin
Ujian Proposal Mala Mulia melibatkan akademisi dari berbagai bidang keahlian dalam pendidikan sains.
Berdasarkan dokumen ujian, Prof. Nadi Suprapto, M.Pd., Ph.D. tercatat sebagai promotor dengan bidang keahlian Pendidikan Fisika, sedangkan Dr. Sifak Indana, M.Pd. menjadi ko-promotor dari bidang Pendidikan Biologi.
Tim penguji juga melibatkan Prof. Dr. Suyatno, M.Si., Prof. Dr. sc.agr. Yuni Sri Rahayu, M.Si., dan Dr. Muhammad Budiyanto, M.Pd., yang masing-masing memiliki latar belakang keahlian Kimia, Biologi, dan Pendidikan IPA.
Komposisi tersebut mencerminkan karakter multidisiplin dalam pendidikan sains, terutama ketika suatu penelitian menghubungkan pengembangan model pembelajaran, kompetensi sains, pendidikan calon guru, dan literasi digital.
Menyiapkan Calon Guru IPA untuk Pendidikan Masa Depan
Ujian Proposal Mala Mulia menunjukkan bagaimana penelitian doktoral dalam Pendidikan Sains dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan masa depan.
Model APIIK membawa lima orientasi—adaptif, personal, integratif, kolaboratif, dan kontekstual—yang ditempatkan dalam pengembangan kompetensi sains dan literasi digital calon guru IPA.
Kombinasi tersebut relevan dengan perubahan peran guru di era digital.
Guru masa depan tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pengetahuan. Mereka juga perlu mampu merancang pengalaman belajar, menggunakan teknologi secara tepat, membantu siswa mengevaluasi informasi, menghubungkan konsep sains dengan kehidupan, serta membangun pembelajaran yang mendorong kolaborasi dan kemandirian.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, upaya tersebut menegaskan kembali pentingnya investasi pada kualitas calon pendidik.
Melalui penelitian yang berorientasi pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan bersinggungan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, pengembangan Model APIIK diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik terhadap diskursus mengenai pendidikan calon guru IPA di tengah transformasi digital.
Ujian proposal menjadi tahap awal untuk menguji dan mematangkan gagasan tersebut sebelum penelitian dilanjutkan ke tahapan pengembangan dan pengujian lebih lanjut.