Ujian Proposal Disertasi Rinaldiyanti Rukmana: Model ProDELIMA Integrasikan STEAM, Mangrove, dan Bioentrepreneurship untuk Pendidikan dan Ekonomi Berkelanjutan
SURABAYA – Program Studi S3 Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah melaksanakan Ujian Proposal Disertasi Rinaldiyanti Rukmana pada Kamis, 13 Agustus 2026. Proposal penelitian tersebut mengangkat pengembangan Model ProDELIMA, yang mengintegrasikan Project-Based Deep Learning, STEAM, dan mangrove ethnopreneurship untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan bioentrepreneurship murid dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Ujian Proposal Disertasi berlangsung pada pukul 13.00–14.30 WIB di Ruang Ujian Lantai 1 Gedung IDB FMIPA UNESA. Kegiatan ini merupakan bagian dari tahapan akademik mahasiswa Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA UNESA.
Berdasarkan dokumen jadwal ujian, Rinaldiyanti Rukmana, mahasiswa dengan NIM 25030966016, mengajukan proposal pengembangan Model ProDELIMA (Project-Based Deep Learing Integrated with STEAM and Mangrove Ethnopreneurship) untuk meningkatkan keterampilan problem solving dan bioentrepreneurship murid dalam mendukung SDGs. Ejaan “Deep Learing” tersebut mengikuti judul yang tercantum dalam dokumen resmi ujian.
Riset ini mempertemukan sejumlah isu strategis dalam pendidikan masa kini, mulai dari pembelajaran mendalam, pembelajaran berbasis proyek, STEAM, ekosistem mangrove, kearifan dan potensi lokal, keterampilan pemecahan masalah, hingga bioentrepreneurship. Kombinasi tersebut membuka peluang bagi pembelajaran sains untuk tidak hanya mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga menghubungkan pengetahuan dengan keberlanjutan lingkungan dan penciptaan nilai ekonomi berbasis sumber daya hayati.
ProDELIMA Padukan Proyek, Deep Learning, STEAM, dan Mangrove
Model ProDELIMA menawarkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa unsur dalam satu kerangka.
Orientasi project-based memberikan ruang kepada murid untuk belajar melalui aktivitas yang menghasilkan produk, solusi, atau karya. Dalam proses tersebut, peserta didik dapat terlibat sejak tahap identifikasi masalah, perencanaan, pengembangan solusi, hingga evaluasi hasil.
Konsep deep learning dalam konteks pendidikan menekankan pembelajaran yang mendorong pemahaman bermakna, keterhubungan antarkonsep, dan penerapan pengetahuan dalam situasi yang relevan. Orientasi ini penting agar pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi.
Sementara itu, integrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) memberikan kesempatan kepada murid untuk menggunakan berbagai perspektif keilmuan ketika menghadapi suatu permasalahan.
Keunikan ProDELIMA semakin kuat dengan hadirnya mangrove ethnopreneurship sebagai konteks pembelajaran.
Mangrove tidak hanya dapat dipelajari sebagai bagian dari ekosistem pesisir, tetapi juga dapat menjadi konteks untuk memahami hubungan antara sains, lingkungan, masyarakat, potensi lokal, kreativitas, dan aktivitas kewirausahaan.
Dengan demikian, pembelajaran memungkinkan murid melihat bahwa persoalan lingkungan dan ekonomi tidak selalu berdiri sendiri.
Mangrove sebagai Laboratorium Kontekstual Pendidikan Sains
Pemanfaatan mangrove memberikan konteks yang kuat bagi pembelajaran sains berbasis keberlanjutan.
Ekosistem mangrove dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari berbagai konsep biologi dan lingkungan sekaligus mengajak murid memahami hubungan antara ekosistem, aktivitas manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Dalam pembelajaran kontekstual, lingkungan sekitar tidak hanya menjadi objek pengamatan, tetapi dapat berfungsi sebagai laboratorium kehidupan yang menghadirkan persoalan nyata untuk dianalisis.
Murid dapat diajak memahami potensi mangrove, berbagai permasalahan yang mengancam keberlanjutannya, serta bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkontribusi terhadap pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Konteks tersebut menjadikan sains lebih dekat dengan kehidupan peserta didik sekaligus memberikan ruang untuk menghubungkan pembelajaran dengan persoalan pembangunan berkelanjutan.
Problem Solving untuk Menghadapi Persoalan Nyata
Salah satu kompetensi utama yang menjadi sasaran Model ProDELIMA adalah keterampilan problem solving atau pemecahan masalah.
Kemampuan memecahkan masalah menjadi semakin penting karena berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat jarang memiliki solusi yang sederhana.
Permasalahan lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam, perubahan teknologi, hingga tantangan ekonomi membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi akar persoalan, mengumpulkan informasi, mempertimbangkan berbagai alternatif, dan memilih solusi berdasarkan alasan serta bukti yang kuat.
Dalam pembelajaran berbasis proyek dan STEAM, kemampuan tersebut dapat berkembang ketika murid berhadapan langsung dengan persoalan yang menuntut mereka mengintegrasikan berbagai pengetahuan.
Proses belajar kemudian tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi juga membangun cara berpikir sistematis dalam menghadapi masalah.
Bioentrepreneurship Hubungkan Sains dengan Penciptaan Nilai
Aspek menarik lainnya adalah fokus penelitian pada bioentrepreneurship.
Bioentrepreneurship mempertemukan pengetahuan biologi dengan kemampuan kewirausahaan. Dalam konteks pendidikan, orientasi ini dapat membantu murid memahami bahwa pengetahuan tentang sumber daya hayati dapat dikembangkan menjadi gagasan, produk, atau layanan yang memiliki manfaat sosial maupun ekonomi.
Namun, penciptaan nilai dari sumber daya hayati perlu berjalan bersama prinsip keberlanjutan.
Melalui konteks mangrove, murid dapat belajar bahwa pemanfaatan potensi hayati tidak seharusnya dilakukan dengan mengabaikan fungsi ekologisnya. Kreativitas ekonomi justru perlu dibangun dengan mempertimbangkan kelestarian sumber daya.
Perspektif tersebut membuat bioentrepreneurship memiliki posisi yang menarik dalam pendidikan berkelanjutan: mengembangkan kemampuan menciptakan nilai tanpa memisahkannya dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Secara substantif, penelitian Rinaldiyanti memiliki keterkaitan kuat dengan SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas.
Pengembangan model pembelajaran yang mengintegrasikan proyek, STEAM, pemecahan masalah, dan konteks lingkungan memberikan orientasi pada pembelajaran yang lebih aktif dan bermakna.
Pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga dengan kemampuan peserta didik menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan dan mengambil keputusan.
Melalui ProDELIMA, murid diarahkan untuk menghubungkan pengetahuan sains dengan persoalan lingkungan dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Orientasi semacam ini dapat mendukung pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
Bioentrepreneurship dan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Fokus pada bioentrepreneurship juga memiliki keterkaitan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth atau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pendidikan kewirausahaan dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan mengenali peluang, menciptakan ide, mengambil inisiatif, dan menghasilkan nilai.
Ketika aktivitas tersebut dikaitkan dengan sumber daya hayati dan potensi lokal, pembelajaran dapat membuka wawasan mengenai peluang ekonomi yang berkembang dari lingkungan sekitar.
Orientasi ini tidak berarti menjadikan pendidikan semata-mata sebagai persiapan bisnis. Lebih luas dari itu, kewirausahaan dapat membangun inisiatif, kreativitas, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan mengubah pengetahuan menjadi solusi bernilai.
STEAM dan Proyek Mendukung Semangat SDG 9
Integrasi STEAM dan pembelajaran berbasis proyek juga memiliki irisan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, terutama pada dimensi inovasi.
Murid yang terlibat dalam proyek ditantang untuk mengembangkan gagasan, membuat rancangan, menguji solusi, dan memperbaiki hasil berdasarkan evaluasi.
Proses tersebut menjadi bagian dari pembentukan pola pikir inovatif.
Dalam konteks ProDELIMA, inovasi tidak dilepaskan dari potensi lokal. Mangrove dan lingkungan pesisir dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan solusi berbasis sains, teknologi, dan kreativitas.
Dengan demikian, inovasi dapat dipahami bukan semata-mata sebagai penggunaan teknologi canggih, tetapi juga sebagai kemampuan menghasilkan pendekatan baru terhadap persoalan yang berada di sekitar masyarakat.
Mangrove Membawa Dimensi SDG 13 dan SDG 14
Konteks mangrove membuat penelitian ini juga memiliki relevansi substantif dengan SDG 13: Climate Action dan SDG 14: Life Below Water.
Mangrove merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir. Karena itu, menjadikannya sebagai konteks pembelajaran dapat membuka peluang untuk membangun pemahaman peserta didik mengenai hubungan antara ekosistem, perubahan lingkungan, keberlanjutan sumber daya pesisir, dan aktivitas manusia.
Dalam pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, pemahaman tersebut penting karena persoalan lingkungan tidak cukup disampaikan sebagai informasi.
Peserta didik perlu memperoleh pengalaman yang membantu mereka melihat hubungan antara keputusan manusia, pemanfaatan sumber daya, keberlanjutan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat.
Mengintegrasikan mangrove dengan aktivitas STEAM dan bioentrepreneurship dapat menjadi cara untuk mempertemukan perspektif ekologis dengan sosial-ekonomi dalam pembelajaran.
Ekologi dan Ekonomi Tidak Harus Dipertentangkan
Salah satu gagasan penting yang dapat dibaca dari orientasi penelitian ProDELIMA adalah pertemuan antara pelestarian lingkungan dan penciptaan nilai ekonomi.
Keduanya sering kali dipandang sebagai kepentingan yang berlawanan. Padahal, pendidikan berkelanjutan dapat membantu peserta didik memahami bahwa pemanfaatan sumber daya perlu dirancang agar tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Dalam konteks bioentrepreneurship berbasis mangrove, orientasi kewirausahaan dapat diarahkan bukan pada eksploitasi, tetapi pada penciptaan gagasan yang memperhatikan keberlanjutan.
Cara berpikir seperti ini penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya kreatif secara ekonomi, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis.
Tim Promotor dan Penguji Berbasis Keahlian Biologi dan Pendidikan Biologi
Ujian Proposal Disertasi Rinaldiyanti Rukmana melibatkan akademisi dengan latar belakang keahlian yang relevan terhadap pendidikan sains, biologi, dan lingkungan.
Berdasarkan dokumen ujian, Prof. Dr. Endang Susantini, M.Pd. bertindak sebagai promotor dari bidang Pendidikan Biologi, sedangkan Dr. Rinie Pratiwi Puspitawati, M.Si. menjadi ko-promotor dari bidang Pendidikan Biologi.
Tim ujian juga melibatkan Prof. Dr. Suyatno, M.Si., Prof. Dr. Wisanti, M.Si., dan Prof. Dr. Isnawati, M.Si., dengan bidang keahlian yang mencakup Kimia, Pendidikan Biologi, dan Biologi.
Keterlibatan tim tersebut memberikan perspektif akademik yang relevan untuk mengkaji penelitian yang mengintegrasikan pembelajaran, biologi, STEAM, mangrove, dan bioentrepreneurship.
Dari Mangrove Menuju Pendidikan dan Kewirausahaan Berkelanjutan
Ujian Proposal Disertasi Rinaldiyanti Rukmana memperlihatkan bagaimana penelitian Pendidikan Sains dapat berangkat dari persoalan dan potensi lokal untuk menjawab agenda global.
Melalui Model ProDELIMA, pembelajaran berbasis proyek dan deep learning diintegrasikan dengan STEAM serta mangrove ethnopreneurship untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan bioentrepreneurship murid.
Pendekatan tersebut mempertemukan tiga dimensi penting: pendidikan, lingkungan, dan ekonomi.
Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk memahami sains, tetapi juga menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan inovasi, mengenali potensi sumber daya hayati, dan membangun gagasan kewirausahaan yang memperhatikan keberlanjutan.
Secara substantif, penelitian ini memiliki relevansi dengan beberapa agenda Sustainable Development Goals, terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 14: Ekosistem Lautan.
Melalui pendekatan seperti ProDELIMA, pendidikan sains dapat menjadi ruang untuk membangun generasi yang mampu memecahkan masalah, berinovasi, menciptakan nilai ekonomi, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ujian proposal disertasi menjadi tahap penting untuk mematangkan kerangka penelitian tersebut sebelum dilanjutkan pada proses pengembangan, implementasi, dan pengujian pada tahapan berikutnya.