Ujian Proposal Disertasi Pramita Laksitarahmi Isrianto: Model TUNAS Berbasis STEAM dan Kearifan Lokal Dorong Pendidikan Berkualitas dan Kewirausahaan Berkelanjutan
SURABAYA – Program Studi S3 Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah melaksanakan Ujian Proposal Disertasi Pramita Laksitarahmi Isrianto pada Kamis, 20 Agustus 2026. Proposal penelitian tersebut mengangkat pengembangan Model Pembelajaran TUNAS berbasis STEAM dan kearifan lokal siwalan untuk melatihkan kreativitas dan kewirausahaan murid SMA dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Ujian proposal disertasi berlangsung pada pukul 10.00–11.30 WIB di Ruang Ujian Lantai 1 Gedung IDB FMIPA UNESA. Kegiatan tersebut merupakan salah satu tahapan akademik dalam Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA UNESA.
Berdasarkan dokumen jadwal ujian, Pramita Laksitarahmi Isrianto, mahasiswa dengan NIM 25030966014, mengajukan proposal berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran TUNAS Berbasis STEAM Kearifan Lokal Siwalan untuk Melatihkan Kreativitas dan Kewirausahaan Murid SMA dalam Mendukung SDGs.”
Penelitian tersebut mempertemukan beberapa isu penting dalam pendidikan masa kini: STEAM, kearifan lokal, kreativitas, kewirausahaan, dan pembangunan berkelanjutan. Integrasi kelima aspek tersebut menunjukkan upaya untuk menghadirkan pembelajaran sains yang tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi juga menghubungkan pengetahuan dengan potensi lokal dan kemampuan peserta didik menghasilkan gagasan yang bernilai.
Model TUNAS Integrasikan STEAM dengan Kearifan Lokal Siwalan
Salah satu karakter penting dari proposal penelitian Pramita adalah penggunaan kearifan lokal siwalan sebagai konteks dalam pembelajaran berbasis STEAM.
Pendekatan **STEAM—Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics—**mendorong peserta didik untuk melihat suatu persoalan melalui berbagai perspektif keilmuan. Dalam pembelajaran, pendekatan ini dapat memberikan ruang bagi siswa untuk menghubungkan pengetahuan sains dengan teknologi, proses perancangan, kreativitas, serta kemampuan matematis.
Ketika STEAM dipadukan dengan kearifan lokal, pembelajaran berpotensi menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
Siwalan sebagai salah satu potensi lokal dapat ditempatkan bukan hanya sebagai objek yang dikenali secara biologis, tetapi juga sebagai konteks untuk mengeksplorasi berbagai persoalan ilmiah, teknologi, pengolahan produk, kreativitas, hingga kemungkinan penciptaan nilai ekonomi.
Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa sumber daya yang berada di sekitar masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang bermakna.
Dengan demikian, pembelajaran sains tidak harus selalu dimulai dari konteks yang jauh dari peserta didik. Fenomena, sumber daya, budaya, dan potensi lokal dapat menjadi titik awal untuk membangun pengetahuan sekaligus mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.
Kreativitas sebagai Kompetensi Penting dalam Pembelajaran STEAM
Proposal disertasi Pramita secara khusus diarahkan untuk melatihkan kreativitas murid SMA.
Kreativitas memiliki peran penting dalam pembelajaran berbasis STEAM karena peserta didik tidak hanya diminta memahami suatu persoalan, tetapi juga perlu menghasilkan gagasan, mempertimbangkan berbagai kemungkinan solusi, serta mengembangkan produk atau rancangan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.
Dalam konteks pembelajaran sains, kreativitas dapat berkembang ketika siswa diberikan kesempatan untuk menghadapi persoalan terbuka yang tidak selalu memiliki satu jawaban tunggal.
Peserta didik perlu mampu menghubungkan berbagai pengetahuan, mengeksplorasi alternatif, melakukan pengujian, mengevaluasi ide, serta melakukan perbaikan terhadap solusi yang mereka kembangkan.
Penggunaan kearifan lokal siwalan dalam Model TUNAS memberikan konteks yang potensial untuk proses tersebut karena peserta didik dapat melihat langsung hubungan antara pengetahuan ilmiah, lingkungan, masyarakat, dan kemungkinan inovasi.
Dari Pembelajaran Sains Menuju Jiwa Kewirausahaan
Selain kreativitas, penelitian tersebut juga menempatkan kewirausahaan sebagai kompetensi yang hendak dilatihkan kepada murid SMA.
Orientasi ini memberikan dimensi yang berbeda dalam pembelajaran sains.
Pengetahuan ilmiah tidak hanya dapat digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam menciptakan ide, produk, atau solusi yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks kearifan lokal siwalan, pembelajaran dapat membuka ruang bagi siswa untuk melihat potensi sumber daya lokal dari perspektif yang lebih luas. Mereka dapat mempelajari karakteristik ilmiahnya sekaligus memikirkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat dikembangkan menjadi gagasan inovatif dan bernilai.
Kewirausahaan dalam konteks pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menjual suatu produk. Kompetensi ini juga mencakup keberanian mengidentifikasi peluang, mengembangkan ide, mengambil inisiatif, memecahkan masalah, serta menciptakan nilai.
Ketika dikembangkan bersamaan dengan kreativitas, orientasi kewirausahaan dapat membantu peserta didik melihat bahwa ilmu pengetahuan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial dan ekonomi.
Relevan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Secara substantif, penelitian Pramita memiliki keterkaitan yang kuat dengan SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas.
Pengembangan model pembelajaran inovatif yang mengintegrasikan STEAM, kearifan lokal, kreativitas, dan kewirausahaan menunjukkan orientasi pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pengetahuan akademik.
Pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kompetensi yang dapat membantu peserta didik menghadapi persoalan nyata, menghasilkan gagasan, bekerja dengan berbagai bidang pengetahuan, serta memahami hubungan antara apa yang dipelajari di sekolah dan kehidupan di masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pendidikan berkualitas juga berarti memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus tetap berakar pada lingkungan dan potensi lokal.
Model TUNAS berbasis STEAM dan kearifan lokal siwalan membawa dua dimensi tersebut secara bersamaan: orientasi masa depan melalui STEAM dan orientasi lokal melalui pemanfaatan kearifan serta potensi siwalan.
Kewirausahaan Beririsan dengan SDG 8
Fokus penelitian pada kewirausahaan juga dapat dikaitkan secara substantif dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth atau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pengembangan kemampuan kewirausahaan sejak jenjang sekolah dapat membantu peserta didik mengenali potensi, peluang, dan berbagai kemungkinan penciptaan nilai melalui kreativitas serta inovasi.
Dalam konteks penelitian ini, orientasi tersebut menjadi semakin menarik karena kewirausahaan dikembangkan melalui potensi lokal.
Pemanfaatan sumber daya lokal sebagai konteks belajar dapat membantu peserta didik memahami bahwa inovasi tidak selalu harus berangkat dari sumber daya yang berasal dari luar lingkungan mereka.
Sebaliknya, potensi yang telah dikenal masyarakat dapat dikembangkan melalui pengetahuan sains, teknologi, kreativitas, dan pendekatan kewirausahaan.
Dengan demikian, pembelajaran dapat berperan dalam membangun cara pandang peserta didik agar tidak hanya menjadi pengguna pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melihat peluang dan menciptakan nilai dari sumber daya yang tersedia di sekitarnya.
STEAM dan Kreativitas Mendukung Semangat Inovasi
Selain SDG 4 dan SDG 8, integrasi STEAM dan kreativitas dalam penelitian tersebut juga memiliki irisan dengan semangat SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, khususnya pada aspek inovasi.
Pembelajaran STEAM memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggabungkan pengetahuan dari berbagai bidang ketika mengembangkan suatu gagasan atau solusi.
Penggunaan konteks lokal memperkuat orientasi tersebut dengan menghadirkan persoalan dan sumber daya yang dekat dengan peserta didik.
Dari perspektif pendidikan, hal ini penting karena inovasi tidak harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Kemampuan inovatif juga dapat dibangun melalui proses sederhana: mengenali potensi, menemukan masalah, mengembangkan alternatif solusi, menciptakan gagasan, dan memperbaiki hasil berdasarkan evaluasi.
Model pembelajaran yang memberikan ruang terhadap proses tersebut dapat membantu membangun fondasi kompetensi inovatif sejak pendidikan menengah.
Kearifan Lokal sebagai Jembatan Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan
Pemanfaatan kearifan lokal siwalan juga memberikan karakter khusus pada penelitian Pramita.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, sumber daya lokal memiliki nilai bukan hanya karena keberadaannya, tetapi juga karena keterhubungannya dengan masyarakat, budaya, lingkungan, dan aktivitas ekonomi.
Pembelajaran yang menggunakan potensi lokal dapat membantu siswa mengenali bahwa pembangunan berkelanjutan tidak selalu hadir dalam bentuk persoalan global yang abstrak.
Agenda keberlanjutan juga dapat dipahami melalui lingkungan terdekat: bagaimana suatu sumber daya dimanfaatkan, bagaimana masyarakat memperoleh manfaat darinya, bagaimana inovasi dapat dikembangkan, serta bagaimana potensi lokal dapat dipertahankan dan dikembangkan secara bertanggung jawab.
Perspektif tersebut membuat pendidikan sains memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara pengetahuan ilmiah, kehidupan masyarakat, inovasi, dan keberlanjutan.
Didukung Tim Promotor dan Penguji Bidang Biologi serta Pendidikan Sains
Ujian Proposal Disertasi Pramita Laksitarahmi Isrianto melibatkan tim promotor dan penguji dengan latar belakang bidang biologi, pendidikan biologi, kimia, dan pendidikan sains.
Berdasarkan dokumen ujian, Prof. Dr. Endang Susantini, M.Pd. tercatat sebagai promotor dari bidang Pendidikan Biologi, sedangkan Prof. Dr. Fida Rachmadiarti, M.Kes. menjadi ko-promotor dari bidang Biologi.
Tim ujian juga melibatkan Prof. Dr. Suyatno, M.Si., Prof. Dr. Tarzan Purnomo, M.Si., serta Dr. Rinie Pratiwi Puspitawati, M.Si.
Komposisi tersebut memberikan perspektif multidisiplin terhadap penelitian yang menghubungkan pendidikan sains, STEAM, kearifan lokal, kreativitas, dan kewirausahaan.
Dari Siwalan Menuju Pendidikan Berkelanjutan
Ujian Proposal Disertasi Pramita Laksitarahmi Isrianto menunjukkan bahwa konteks lokal dapat menjadi titik masuk untuk menjawab tantangan pendidikan global.
Melalui Model TUNAS berbasis STEAM dan kearifan lokal siwalan, potensi lokal ditempatkan sebagai bagian dari proses untuk melatihkan kreativitas dan kewirausahaan murid SMA sekaligus mendukung agenda SDGs.
Pendekatan ini memberikan pesan penting bahwa pembangunan berkelanjutan tidak harus selalu dipelajari melalui isu-isu global yang jauh dari kehidupan peserta didik.
Keberlanjutan dapat dimulai dari kemampuan untuk mengenali potensi lingkungan sendiri, memahami sumber daya secara ilmiah, menghasilkan gagasan kreatif, mengembangkan inovasi, dan menciptakan nilai yang bermanfaat bagi masyarakat.
Secara substantif, penelitian tersebut paling kuat berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, sekaligus memiliki irisan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui orientasi kewirausahaan dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan kreativitas dan pendekatan STEAM.
Melalui penelitian doktoral seperti ini, Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA UNESA menunjukkan bagaimana penelitian pendidikan dapat menghubungkan sains, teknologi, kearifan lokal, kreativitas, kewirausahaan, dan agenda pembangunan berkelanjutan dalam satu kerangka pembelajaran.
Ujian proposal disertasi menjadi tahap penting untuk mematangkan kerangka tersebut sebelum penelitian dilanjutkan pada proses pengembangan dan pengujian selanjutnya.