Ujian Disertasi Rita Magdalena dan Muhammad Ikhsan: Riset S3 Pendidikan Sains UNESA Angkat AI dan Pembelajaran Responsif Budaya
SURABAYA – Program Studi S3 Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah melaksanakan rangkaian ujian disertasi Rita Magdalena dan Muhammad Ikhsan pada Kamis, 16 Juli 2026. Dua penelitian doktoral tersebut menghadirkan inovasi pembelajaran yang mengangkat isu strategis pendidikan masa kini, yaitu pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), pembelajaran daring, keterampilan berpikir kritis, serta pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap keberagaman budaya.
Secara substantif, kedua penelitian tersebut memiliki relevansi kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education, serta tujuan lain yang berkaitan dengan inovasi, teknologi, dan pengurangan kesenjangan.
Rita Magdalena Kembangkan ICARE-M Berbantuan AI untuk Meningkatkan Berpikir Kritis
Dalam Ujian Terbukanya, Rita Magdalena mempresentasikan penelitian berjudul “Model Pembelajaran ICARE-M (Introduction, Connection, Application, Reflection and Extension)–Modification Berbantuan AI untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa melalui E-Learning.”
Penelitian tersebut mengangkat salah satu isu yang semakin relevan dalam pendidikan tinggi, yaitu bagaimana Artificial Intelligence (AI) dapat diintegrasikan secara pedagogis ke dalam pembelajaran daring.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan teknologi baru. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari desain pembelajaran yang mampu memperkuat aktivitas kognitif mahasiswa.
Melalui model ICARE-M, proses pembelajaran disusun melalui tahapan Introduction, Connection, Application, Reflection, dan Extension yang dimodifikasi serta dipadukan dengan dukungan AI.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak harus menggeser peran pedagogi. Sebaliknya, teknologi dapat ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkaya pengalaman belajar ketika diintegrasikan dengan tahapan pembelajaran yang jelas dan berorientasi pada kompetensi.
Fokus pada keterampilan berpikir kritis juga menjadi penting di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI generatif. Mahasiswa tidak hanya perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu mengevaluasi informasi, menguji kebenaran suatu respons, membandingkan berbagai sumber, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, penelitian Rita memiliki keterkaitan paling kuat dengan SDG 4: Quality Education, terutama melalui pengembangan inovasi pembelajaran yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mahasiswa.
Pengintegrasian AI dan e-learning juga memiliki relevansi dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, khususnya dalam pemanfaatan inovasi teknologi untuk memperkuat sistem pendidikan.
Dalam konteks yang lebih luas, pembelajaran daring juga membuka peluang bagi sistem pendidikan untuk menjadi lebih fleksibel dalam memberikan akses terhadap sumber dan pengalaman belajar. Namun, pemanfaatannya tetap perlu disertai desain pedagogis yang kuat agar teknologi benar-benar memberikan nilai tambah bagi pembelajaran.
Disertasi Rita Magdalena dibimbing oleh Prof. Dr. Rudiana Agustini, M.Pd. sebagai promotor dan Dr. Raharjo, M.Si. sebagai kopromotor. Tim penguji juga melibatkan akademisi bidang Pendidikan Fisika, Kimia, Pendidikan Kimia, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan IPA, termasuk Prof. Dr. Suratno, M.Si. dari Universitas Jember.
Muhammad Ikhsan Angkat Critical Thinking Culturally Responsive untuk Siswa Sekolah Dasar
Pada sesi berikutnya, Muhammad Ikhsan mempresentasikan penelitian berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Critical Thinking Culturally Responsive (CTCR) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar.”
Penelitian tersebut membawa perspektif penting dalam pendidikan, yakni keterkaitan antara pengembangan keterampilan berpikir kritis dan responsivitas terhadap konteks budaya peserta didik.
Pembelajaran yang responsif terhadap budaya berangkat dari pemahaman bahwa peserta didik hadir di ruang kelas dengan latar belakang, pengalaman, nilai, dan pengetahuan yang beragam. Konteks tersebut dapat menjadi sumber belajar yang bermakna apabila diintegrasikan secara tepat dalam proses pembelajaran.
Melalui model Critical Thinking Culturally Responsive (CTCR), keterampilan berpikir kritis tidak dikembangkan dalam ruang yang terlepas dari kehidupan peserta didik. Sebaliknya, proses berpikir dapat dibangun melalui pengalaman dan konteks yang lebih dekat dengan identitas sosial serta budaya mereka.
Pendekatan tersebut menjadi penting terutama pada jenjang sekolah dasar. Pada fase ini, peserta didik mulai mengembangkan cara memandang permasalahan, membangun alasan, menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, serta belajar memahami berbagai perspektif.
Dengan demikian, pembelajaran yang responsif terhadap budaya dapat memberikan ruang agar proses pengembangan kemampuan berpikir tidak hanya berlangsung secara kognitif, tetapi juga kontekstual dan relevan dengan kehidupan peserta didik.
Dari perspektif SDGs, penelitian Muhammad Ikhsan memiliki keterkaitan erat dengan SDG 4: Quality Education, khususnya dalam upaya mengembangkan pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi peserta didik.
Pendekatan culturally responsive juga memiliki relevansi dengan semangat SDG 10: Reduced Inequalities. Dalam pendidikan, keberagaman budaya peserta didik perlu dipandang sebagai kekuatan dan sumber belajar, bukan sebagai faktor yang menghasilkan ketimpangan dalam memperoleh pengalaman pendidikan.
Pembelajaran yang memberikan ruang terhadap latar belakang budaya dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan pendidikan yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.
Disertasi Muhammad Ikhsan dibimbing oleh Prof. Dr. Rudiana Agustini, M.Pd. sebagai promotor dan Prof. Dr. Erman, M.Pd. sebagai kopromotor. Tim penguji turut melibatkan akademisi dari bidang Pendidikan Fisika, Kimia, Pendidikan IPA, Biologi, dan Fisika, termasuk Prof. Dr. Zulkarnaen, M.Si. dari Universitas Mulawarman.
AI dan Budaya: Dua Arah Transformasi Pendidikan
Penelitian Rita Magdalena dan Muhammad Ikhsan memperlihatkan dua arah penting transformasi pendidikan masa kini.
Penelitian Rita merespons perkembangan teknologi dan Artificial Intelligence, sedangkan penelitian Muhammad Ikhsan memberikan perhatian pada keberagaman budaya dan pengalaman peserta didik.
Pada satu sisi, pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan perubahan masyarakat. Pada sisi lain, kemajuan teknologi tidak boleh membuat pembelajaran kehilangan keterhubungannya dengan manusia, lingkungan sosial, dan budaya peserta didik.
Kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak harus memilih antara teknologi dan konteks kemanusiaan.
Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat proses belajar, sedangkan konteks budaya dapat menjadi landasan untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap relevan dengan kehidupan peserta didik.
Pertemuan antara dua perspektif tersebut menjadi penting dalam membangun sistem pendidikan masa depan yang tidak hanya semakin digital, tetapi juga inklusif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.
Berpikir Kritis sebagai Kompetensi Bersama
Selain inovasi pembelajaran, terdapat satu kompetensi utama yang menjadi titik temu dari kedua penelitian tersebut, yaitu kemampuan berpikir kritis.
Rita mengembangkan berpikir kritis pada mahasiswa melalui pembelajaran berbantuan AI dan e-learning. Muhammad Ikhsan mengembangkan kompetensi yang sama pada siswa sekolah dasar melalui pendekatan yang responsif terhadap budaya.
Kesamaan tersebut menegaskan bahwa berpikir kritis merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Pada era digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Kemudahan memperoleh informasi melalui internet dan AI menghadirkan manfaat sekaligus tantangan baru. Peserta didik tidak cukup hanya mampu menemukan informasi, tetapi juga harus dapat menilai kualitas, relevansi, kredibilitas, dan dasar bukti dari informasi yang diperoleh.
Pada saat yang sama, kemampuan berpikir kritis perlu dibangun dalam konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Penalaran menjadi lebih bermakna ketika peserta didik mampu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman dan konteks sosial budaya yang mereka pahami.
Dengan demikian, teknologi dan budaya dapat ditempatkan sebagai dua sumber yang saling melengkapi dalam pengembangan kompetensi abad ke-21.
Riset Pendidikan Sains UNESA dan Kontribusinya terhadap SDGs
Rangkaian ujian disertasi Rita Magdalena dan Muhammad Ikhsan memperlihatkan bagaimana penelitian di Program Studi S3 Pendidikan Sains UNESA dapat berkontribusi terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan.
Keterkaitan paling kuat dari kedua penelitian adalah dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan inovasi pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis.
Penelitian Rita juga beririsan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan AI dan teknologi e-learning dalam pendidikan.
Sementara itu, penelitian Muhammad Ikhsan memiliki relevansi dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, terutama melalui pendekatan pembelajaran yang memberikan perhatian pada keberagaman latar belakang budaya peserta didik.
Dalam konteks yang lebih luas, kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas membutuhkan keseimbangan antara inovasi teknologi, kualitas pedagogi, kemampuan berpikir kritis, serta penghargaan terhadap keberagaman.
Melalui model ICARE-M berbantuan AI dan model CTCR, penelitian doktoral tersebut memberikan perspektif mengenai bagaimana pendidikan dapat terus beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasinya pada kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan yang tidak hanya modern dan inovatif, tetapi juga relevan, inklusif, dan berkelanjutan.