Dua Disertasi S3 Pendidikan Sains FMIPA Unesa Angkat Kearifan Lokal untuk Dukung Pendidikan Berkualitas dan SDGs
Surabaya – Program Studi S3 Pendidikan Sains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan ujian terbuka disertasi yang mengangkat tema besar integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran sains. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, bertempat di Auditorium Slamet Dajono FMIPA Unesa lantai 3.
Ujian terbuka tersebut menghadirkan dua promovendus, yaitu Wiwin Puspita Hadi dan Nursamsu. Keduanya mengembangkan model pembelajaran berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21, khususnya dalam meningkatkan literasi sains dan keterampilan berpikir kreatif siswa.
Promovendus pertama, Wiwin Puspita Hadi, mempresentasikan disertasi berjudul “Model Pembelajaran Inkuiri Berbasis Kearifan Lokal Batik Tulis Tanjung Bumi Madura (I-BATARA) untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa.” Ujian terbuka ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 08.00–10.00 WIB.
Melalui model I-BATARA, kearifan lokal Batik Tulis Tanjung Bumi Madura tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai konteks pembelajaran sains yang dekat dengan kehidupan siswa. Pendekatan ini penting karena pembelajaran sains yang terhubung dengan budaya lokal dapat membantu siswa memahami konsep ilmiah secara lebih bermakna, kontekstual, dan aplikatif.
Promovendus kedua, Nursamsu, mengangkat disertasi berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Creative Inquiry Project Laboratorium (CIPro-Lab) Berbasis Kearifan Lokal Aceh untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA.” Ujian terbuka ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 10.00–12.00 WIB.
Model CIPro-Lab menekankan pembelajaran berbasis proyek, inkuiri kreatif, dan pengalaman laboratorium yang dikaitkan dengan kearifan lokal Aceh. Melalui pendekatan tersebut, siswa didorong untuk tidak hanya memahami konsep sains, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan menghasilkan gagasan ilmiah yang relevan dengan lingkungan sosial-budaya mereka.
Penyelenggaraan ujian terbuka ini menunjukkan komitmen FMIPA Unesa dalam mendorong riset pendidikan sains yang tidak terlepas dari konteks lokal. Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran sains menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dari perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), kedua disertasi ini memiliki keterkaitan kuat dengan SDG 4: Quality Education, yaitu pendidikan berkualitas yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran sains berbasis kearifan lokal juga mendukung penguatan kompetensi abad ke-21, seperti literasi sains, kreativitas, berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah.
Selain itu, riset ini juga selaras dengan semangat SDG 11: Sustainable Cities and Communities, khususnya dalam aspek pelestarian warisan budaya dan pengetahuan lokal. Batik Tulis Tanjung Bumi Madura dan kearifan lokal Aceh menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat direkonstruksi secara ilmiah dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang bernilai edukatif.
Kehadiran para penguji dari berbagai bidang keahlian, termasuk pendidikan fisika, kimia, biologi, pendidikan IPA, dan pendidikan kimia, memperkuat karakter multidisipliner dari riset pendidikan sains. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan model pembelajaran sains membutuhkan kolaborasi lintas bidang agar mampu menghasilkan inovasi yang kuat secara akademik dan berdampak secara praktis.
Melalui ujian terbuka disertasi ini, Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA Unesa diharapkan terus melahirkan inovasi pembelajaran yang mampu menjawab tantangan pendidikan masa depan. Integrasi antara sains, budaya, kreativitas, dan keberlanjutan menjadi langkah strategis untuk membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter, identitas lokal, dan kontribusi terhadap pencapaian SDGs.